Sepuluh Alasan untuk Menghindari Soft Drink





Soft drink atau minuman bersoda/berkarbonasi sering menimbulkan perdebatan di berbagai kalangan, terutama tentang bahayanya bagi tubuh manusia. Kontroversi tentang bahaya soft drink terutama sangat terasa di Amerika, di mana setengah dari penduduk negara ini mengkonsumsi minuman ringan setiap harinya. Bahkan tidak sedikit orang yang minum lebih banyak soda daripada air, beberapa bahkan sepenuhnya menggantikan air dengan minuman berkarbonasi.

Nah, benarkah mengkonsumsi soft drink memiliki akibat buruk bagi kesehatan? Di bawah ini adalah penjelasan tentang kandungan yang terdapat di dalam minuman bersoda, beserta efek yang mungkin ditimbulkannya pada tubuh manusia.

bahaya-soft-drink

10 Bahaya Soft Drink bagi Tubuh Manusia:

1. Kadar gula tinggi. 1 kaleng minuman soda (330 ml) mengandung sekitar 40 g gula, atau kurang lebih 8-10 sendok teh! Padahal banyak orang sudah ketakutan untuk minum segelas es teh yang “hanya” berisi dua sendok teh gula. Jumlah gula sebanyak ini, apalagi dalam bentuk cairan, akan mudah sekali meningkatkan kadar gula darah, yang dalam jangka panjang bisa mengakibatkan timbulnya obesitas dan penyakit diabetes.

2. Kebanyakan minuman bersoda mengandung kafein, dengan jumlah bervariasi antara 30-55 mg dalam 1 kaleng. Sebagai perbandingan, 1 cangkir kopi instan (240 ml) mengandung sekitar 60-100 mg kafein. Kafein dalam jumlah kecil, walaupun dikonsumsi secara rutin, relatif tidak berbahaya dan bahkan bisa bermanfaat. Namun jika berlebihan dapat meningkatkan resiko terkena tekanan darah tinggi, detak jantung tidak teratur, gangguan tidur, maupun timbulnya efek kecanduan.

3. Tidak berguna. Soft drink memang rasanya enak dan bisa meredakan haus. Namun mayoritas minuman ini sama sekali tidak mengandung nutrisi yang berguna bagi tubuh.

4. Minum soft drink tidak sama dengan minum air. Tidak seperti air, minuman bersoda mengandung gula dan banyak zat tidak berguna lainnya. Tubuh membutuhkan waktu lebih lama dan lebih banyak cairan untuk memproses gula dan membuang semua zat tidak berguna dari dalam badan.

5. Soft drink bertipe cola mengandung asam phosporic. Kelebihan asam ini, dikombinasikan dengan kekurangan kalsium, akan mengakibatkan merosotnya kepadatan tulang, memudahkan seseorang mengalami osteoporosis dan patah tulang di masa depan. Sebenarnya kandungan asam phosporic dalam cola tidak terlalu tinggi, namun penelitian akan pola hidup masyarakat menyebutkan bahwa orang yang rutin mengkonsumsi soft drink dalam jumlah banyak cenderung makan lebih sedikit (diet), sehingga cadangan kalsium di dalam tubuh juga rendah.

6. Tingkat keasaman tinggi. Kebanyakan minuman bersoda memilik pH antara 2,5-2,8, sedangkan pH normal tubuh manusia adalah 7,1-7,5. Ini berarti minum soda dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama dapat menurunkan pH tubuh, padahal penyakit dapat berkembang biak dengan lebih mudah di tingkat keasaman yang lebih tinggi.

7. Sama seperti semua makanan dan minuman yang bersifat asam dan manis, terlalu banyak soda akan menipiskan lapisan email gigi dan mempermudah gigi untuk menjadi keropos. Masalah ini bisa dikurangi dengan menggunakan sedotan untuk minum, sehingga kontak antara soda dengan gigi menjadi minimum.

8. Anggapan bahwa diet soda bisa membantu menurunkan berat badan adalah salah. Diet soda menggantikan gula dengan pemanis buatan, sehingga secara keseluruhan kadar kalori dalam minuman ini lebih rendah daripada soda biasa. Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang menyatakan bahwa diet soda lebih sehat daripada soda biasa, apalagi hingga berguna untuk menurunkan berat badan.

9. Menurut jurnal yang diterbitkan American Society of Nephrology pada 2013, salah satu bahaya soft drink adalah dapat meningkatkan resiko terkena batu ginjal sebesar 23%.

10. Soda biasa digunakan untuk menghilangkan karat dan mengkilapkan logam. Alasan ini memang belum terbukti dan terkesan berlebihan, tapi banyak yang bilang, kalau karat saja hilang, bayangkan apa yang bisa dilakukan soda pada sistem pencernaan dan organ-organ lain dalam tubuh manusia!

 

Satu hal yang perlu dicatat, bahaya soft drink seperti yang tertulis di atas adalah untuk konsumsi dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.

Berdasar data yang dirilis lembaga peneliti pasar Euromonitor, penduduk Amerika minum soft drink sebanyak 165 liter per orang per tahun, yang berarti hampir setengah liter per harinya! Sebagai perbandingan, orang Jepang meminum 34 liter per kapita, sedangkan Rusia 30 liter, dan Korea Selatan sekitar 27 liter.

Menurut Association of Soft Drink Manufacturers (Asrim), konsumsi minuman berkarbonasi di Indonesia pada 2011, hanya mencapai 2,4 liter per orang/tahun, dan termasuk yang paling rendah di kawasan Asia. Entah karena masyarakat Indonesia lebih sadar kesehatan atau karena harga soft drinks yang memang tidak murah, namun konsumsi minuman bersoda dalam jumlah ini tergolong aman dan tidak menimbulkan efek buruk bagi kesehatan.

Artikel Menarik Lainnya: