Sekilas tentang Buku Game of Thrones





Sudah pernah mendengar tentang Game of Thrones? Buku Game of Thrones sebenarnya adalah buku pertama dari seri A Song of Ice and Fire karangan George R. R. Martin. Tapi sejak diadaptasi menjadi TV series yang tayang di HBO dengan judul Game of Thrones (2011), keseluruhan seri ini jadi lebih populer dengan nama tersebut ketimbang judul lengkapnya.

Sampai saat ini sudah beredar 5 (dari rencana 7) buku dari A Song of Ice and Fire, yaitu A Game of ThronesA Clash of KingsA Storm of SwordsA Feast for Crows, dan A Dance with Dragons. Dua buku terakhir yang belum terbit berjudul The Winds of Winter dan A Dream of Spring.

Buku Game of Thrones sendiri belum tersedia dalam bahasa Indonesia, dan rasanya kecil kemungkinan ada penerbit lokal yang berani menerjemahkan buku ini. Alasannya tentu komersial, yakni karena banyaknya adegan kontroversial dan kekerasan, sehingga segmen pembaca buku ini sangat terbatas. Jadi jika anda tertarik untuk membaca novel ber-genre fantasi ini, edisi Bahasa Inggris adalah pilihan terbaik saat ini.

Buku Game of Thrones

A Song of Ice and Fire Buku 1-5

 

Dimana Kita Bisa Beli Buku Game of Thrones?

  • Kalau anda tinggal di kota besar, bisa langsung cari di toko buku yang menjual buku impor, seperti Periplus atau Kinokuniya. Pada saat artikel ini ditulis, harga per buku dari serial A Song of Ice and Fire ini sekitar Rp. 90-100 ribu. Sayangnya, selain toko buku impor tidak tersebar merata di Indonesia, barang pun belum tentu ada karena tergantung stok.
  • Bagi yang punya kartu kredit mungkin pilihan terbaik adalah beli dari situs belanja luar negeri, seperti Amazon. Di sini harga buku sesuai aslinya (sekitar $ 9/buku), bahkan bisa lebih murah karena mereka juga menjual edisi box set (paket), dan bahkan ada juga buku bekas. Hanya saja ongkos kirim ke Indonesia bisa cukup mahal (Rp. 100-200 ribu), belum lagi tambahan biaya bea cukai kalau kita berbelanja di atas US$ 50.
  • Beli di toko buku online lokal yang menjual buku impor, seperti Open Trolley Indonesia. Keuntungannya, kita tidak perlu memiliki kartu kredit, karena pembayaran bisa melalui transfer bank. Harga buku di sini memang sedikit lebih mahal sekitar 50%, tapi ongkos kirim dikenakan tarif lokal dan bebas pajak.
  • Download e-book. Jika memilih yang ini, siap-siap saja mata menjadi panas akibat memandangi monitor terus-menerus, apalagi tiap buku tebalnya paling tidak 700-800 halaman!

 

Pada artikel kali ini saya tidak akan me-review satu per satu judul, karena akan terlalu banyak. Saya hanya akan membahas sekilas saja tentang cerita dan daya tarik dari buku yang pertama kali terbit pada 1996 ini, yang oleh para penggemar novel disebut sebagai buku fantasi terbaik sejak Lord of the Rings (1954-1955).

 

“When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground.”

           – Cersei Lannister

Garis Besar Cerita Buku Game of Thrones

Selama ratusan tahun Seven Kingdoms di Westeros bersatu di bawah pimpinan dinasti Targaryen, sebelum akhirnya berakhir di generasi ke-17, pada masa kekuasaan Raja Aerys Targaryen. Aerys yang dijuluki mad king memiliki sifat paranoid yang semakin lama semakin parah, yang mengakibatkan seluruh realm menderita. Akhirnya house Baratheon, dibantu house Stark, memberontak dan berhasil menggulingkan sang raja gila, dan mengangkat Robert Baratheon untuk duduk di Iron Throne, sebagai pemimpin Westeros yang baru.

Sayangnya kedamaian tidak berlangsung lama, karena King Robert tewas ketika sedang berburu. Hal ini mengakibatkan banyak house yang ingin mengklaim Iron Throne, termasuk house Lannister, Baratheon, Greyjoy, Stark, dan Martell. Belum lagi di Essos, kepulauan di seberang Westeros, satu-satunya penerus dinasti Targaryen yang tersisa, Daenerys Targaryen, sedang menghimpun kekuatan untuk merebut kembali haknya. Akankah Daenerys bersama ketiga naga-nya berhasil membalas dendam dan berkuasa lagi di Seven Kingdoms?

Perebutan kekuasaan bukan satu-satunya masalah di Westeros. Di utara, para Night’s Watch penjaga the Wall yang membatasi realm dengan kawasan utara yang misterius sedang kekurangan orang. Padahal tembok es ini adalah satu-satunya pelindung keseluruhan wilayah Westeros dari serangan mahkluk mistis the Others. Ketika para Night’s Watch masih sibuk menghalau serbuan para manusia liar (wildlings) dataran utara, mereka tidak menyadari ancaman sesungguhnya akan segera datang. Dan ketika winter tiba, the Others akan mencapai puncak kekuatan mereka dan akan mencoba menyeberangi tembok untuk menyerang realm….

 

Night gathers, and now my watch begins.
It shall not end until my death.
I shall take no wife, hold no lands, father no children.
I shall wear no crowns and win no glory.
I shall live and die at my post.
I am the sword in the darkness.
I am the watcher on the walls.
I am the fire that burns against cold,
the light that brings the dawn,
the horn that wakes the sleepers,
the shield that guards the realms of men.
I pledge my life and honor to the Night’s Watch,
for this night and all the nights to come.

– Oath of the Night’s Watch

 

Review Buku Game of Thrones

Melihat garis besar plot-nya, tentu mudah menebak bahwa intrik politik dan perebutan kekuasaan menjadi menu utama buku ini. Perseteruan menjadi lebih menarik karena tiap-tiap house memiliki alasan dan klaim yang kuat untuk ikut memperebutkan Iron Throne, baik itu karena faktor keturunan, merasa yang paling kuat, niat balas dendam, ataupun untuk melindungi Westeros. Intrik politik digambarkan secara cerdas, di mana para pemimpin Seven Kingdoms saling beradu strategi untuk memenuhi ambisi mereka.

Hanya saja, pertikaian para klan ini tidak semenarik mengikuti cerita karakter-karakter yang terdapat dalam klan itu sendiri. Tokoh-tokoh dalam buku Game of Thrones ini cenderung natural dan seimbang, dalam artian tidak ada tokoh yang benar-benar baik maupun yang murni jahat. Karakter yang pada buku 1 kita benci misalnya, bisa saja kita tiba-tiba merasa simpati padanya di buku 3, karena memang tiap-tiap karakter mengalami perkembangan cerita yang sangat menarik.

Intinya, seri A Song of Ice and Fire ini tidak mengenal tokoh protagonist maupun antagonist. Di awal membaca, mudah saja kita menduga para anggota keluarga Stark sebagai “lakon”, dan para Lannister sebagai “musuh”. Tapi sebelum buku pertama berakhir saja, pendapat ini sangat mungkin sudah berubah. Belum lagi banyaknya kejutan, di mana orang-orang yang kita anggap penting dalam cerita tiba-tiba bisa terbunuh dengan begitu mudahnya (ini termasuk spoiler nggak ya…?).

George R. R. Martin sendiri sangat mementingkan penokohan para karakter tersebut, sehingga buku ini tidak menggunakan pakem yang biasa digunakan oleh novel. Jika biasanya novel menggunakan bab yang menceritakan alur berdasarkan waktu, buku Game of Thrones menggunakan point of view para tokoh sebagai bab-nya. Contohnya, bab yang berjudul “Jon Snow” akan menceritakan kejadian sesuai sudut pandang seorang Jon Snow.

Dengan penulisan berdasarkan sudut pandang karakternya tersebut, George R. R. Martin ingin pembaca bisa memahami tiap-tiap tokoh, termasuk untuk tokoh yang dianggap jahat dan alasan kenapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang seolah-olah tidak masuk akal.

Buku Game of Thrones juga berisi banyak adegan kekerasan, seks, incest, hingga perilaku absurd para tokoh-tokohnya. Mungkin banyak yang bilang kalau adegan vulgar semacam ini tidak perlu, dan hanya trik murahan untuk meraih popularitas. Buat saya malah sebaliknya, adegan semacam itu bila dibaca sepintas memang kelihatannya bisa dihilangkan. Tapi kalau kita melihat dalam konteks cerita secara keseluruhan, adegan-adegan itu justru memperjelas sifat-sifat para karakter di buku, selain juga memberikan gambaran perilaku masyarakat di Westeros dan Essos. Klise memang, tapi buku Game of Thrones memang bukan bacaan remaja atau roman yang perlu menggunakan bahasa halus untuk menyampaikan realita situasi pada masa itu.

 

“Can a man still be brave if he’s afraid?”
“That is the only time a man can be brave.”
– Eddard Stark

 

Eddard Stark dari serial TV “Game of Thrones”

 

Winter is Coming….. (When?)

Para penggemar buku Game of Thrones, termasuk saya, agak sedikit khawatir dengan kelangsungan serial ini. Hal ini disebabkan butuh waktu 15 tahun (1996-2011) bagi George R. R. Martin untuk menyelesaikan 5 buku, yang berarti kalau di rata-rata sekitar 3 tahun/buku. Dengan perhitungan ini, paling cepat buku ke-7 baru akan terbit pada tahun 2017, belum lagi bahwa Martin masih membuka kemungkinan bahwa serial ini bisa berlanjut ke buku 8! Kekhawatiran fans sendiri lebih mengacu ke usia sang pengarang yang mulai lanjut (lahir pada tahun 1948), walaupun saat ini beliau masih dalam kondisi kesehatan yang sangat prima.

Semoga saja buku ini bisa selesai secepatnya, apalagi pengarangnya sendiri bertekad untuk menerbitkan seluruh buku sebelum disusul oleh TV series-nya, yang sekarang sudah menyelesaikan season 2 (atau cerita buku 2).

 

Update I (Mei 2015)

  • Kabar gembira bagi para penggemar Game of Thrones di Indonesia, karena akhirnya ada penerbit lokal yang menerbitkan novel ini dalam Bahasa Indonesia. Buku A Song Of Ice And Fire 1 : A Game Of Thrones sudah diedarkan sejak Maret 2015 oleh penerbit Fantasious.
  • Serial TV Game of Thrones saat ini sudah memasuki season ke-5, yang plot-nya mencakup sebagian isi dari buku ke-3, 4, dan 5.
  • Belum ada kabar tentang jadwal terbit buku ke-6 yang berjudul The Winds of Winter. Hanya saja dalam sebuah wawancara pada bulan April 2015, George R. R. Martin berharap buku ini bisa terbit sebelum serial TV-nya memasuki season ke-6 (2016). Sedangkan para pengamat yang lebih pesimistis memprediksi buku ini terbit sometime between 2015-2018 🙁

Artikel Menarik Lainnya: