Review Buku The Count of Monte Cristo





buku-the-count-of-monte-cristoThe Count of Monte Cristo

Penerbit: PT Bentang Pustaka
Pengarang: Alexandre Dumas
Terbit: Maret 2011
Tebal: 568 halaman
Harga: Rp. 73.000

Plot:

Terpuruk dalam dinginnya dinding penjara bawah tanah yang gelap, Dantes bagai menghitung hari. Ulah satu komplotan jahat telah menghancurkan hidup kapten kapal pemberani itu. Tak ada lagi kapal megah beserta awak yang siap melayaninya. Ayahnya menanti ajal dalam kemiskinan tanpa kehadirannya. Wanita yang dicintainya pun turut dirampas. Masih layakkah dia berharap pada hidup?

Namun, hidup yang dia benci masih menyimpan kejutan. Secuil harapan muncul justru dari sosok tak terduga: seorang pria renta yang sekarat. Dari tubuh rapuhnya, terlontar sebuah rahasia yang bisa membuat Dantes keluar dari tempat terkutuk itu. Lebih dari itu, balas dendam!

Mata bayar mata, gigi bayar gigi.

The Good
Kaya pesan moral • Tokoh utama kompleks dan menarik • Plot cerdas dan tidak terduga • Latar belakang sejarah Prancis awal abad 19
The Bad
Terasa lambat di beberapa bagian • Ending akan terasa ganjil bagi beberapa pembaca
Rating: 8.5 / 10

 

Review Buku The Count of Monte Cristo:

Edmond Dantes adalah seorang pelaut muda dengan masa depan cerah dan memiliki tunangan yang cantik bernama Mercedes. Sayang, kedua hal yang dimilikinya ini justru membuat iri dua orang; Danglars yang merasa dirinya lebih berhak menjadi kapten kapal, dan Fernand yang ingin merebut Mercedes dari Dantes. Kedua orang ini rela melakukan apa saja, bahkan memfitnah Dantes dengan tuduhan melakukan sebuah konspirasi untuk membantu Napoleon merebut kembali tahta Prancis.

Ketika nasib Dantes di ujung tanduk, sang penuntut umum Villefort justru menjebloskan Dantes ke penjara dan memusnahkan bukti yang ada untuk melindungi karirnya sendiri. Dantes pun harus menghabiskan sisa hidupnya di bawah tanah penjara Chateau d’If (penjara ini benar-benar ada dan terletak di tengah laut Mediterania, satu mil dari pantai Marseille). Kondisi penjara memang sangat mengenaskan, namun tidak ada apa-apanya dibanding rasa kesepian dan putus asa Dantes, dan semua itu karena kesalahan yang tidak dia perbuat.

Di bagian inilah Alexandre Dumas mulai memberikan pesan moral kepada pembaca, bahwa sesulit apapun kondisi yang dihadapi seseorang, dia tidak boleh kehilangan harapan dan keyakinan pada Tuhan. Dantes yang hampir menjadi gila dan melakukan percobaan bunuh diri, bertemu dengan Abbe Faria, seorang pendeta kaya pengalaman dan pengetahuan. Sang pendeta tidak hanya mengajarkan berbagai hal dan keahlian kepada Dantes, namun ia juga memberi jalan untuk melarikan diri dari penjara. Tidak cukup sampai di situ, Abbe Faria juga memberi peta harta karun kepada Dantes, yang terletak di pulau Monte Cristo (lagi-lagi lokasi nyata, terletak di tengah-tengah Corsica dan Italia).

Dengan kekayaan dan kebebasannya, Dantes seharusnya bisa memulai hidup baru. Namun ia memutuskan mengambil jalan balas dendam. Berbekal pengetahuan dan skill yang ia pelajari dari Abbe Faria di penjara, Dantes merubah dirinya menjadi Count of Monte Cristo untuk mendekati lawan-lawannya dan menghancurkan mereka dari dalam.

Dumas menggambarkan misi balas dendam Dantes ini secara cerdas, namun juga mengerikan. Dengan kepandaiannya, Dantes bisa mendekati musuh-musuhnya, bahkan menjadi teman mereka, Ia tidak mau sekedar membalas dendam, namun ia ingin lawannya hancur dan menderita, sebelum ia mendaratkan pukulan terakhir ketika mereka berada di puncak kesedihan.

Masalahnya, bisakah Dantes membedakan antara keadilan dan kebencian? Danglars, Fernand, dan Villefort semua sudah memiliki keluarga. Akankah istri dan anak mereka juga menjadi korban pembalasan dendam Dantes? Banyak sekali intrik menarik yang akan anda temui seputar pergolakan batin Dantes dalam misinya ini.

 

spoiler-alert

Membaca buku The Count of Monte Cristo membutuhkan konsentrasi tinggi. Banyak tokoh yang terlibat dalam novel ini, dan semua memegan peranan penting dalam jalan cerita. Hanya saja banyaknya karakter ini akan membuat beberapa bagian buku terasa lambat, terutama karena terlalu banyak bagian yang menggambarkan sifat dan latar belakang para tokoh tersebut. Namun secara keseluruhan, plot sangat menarik dan twisty, sehingga pembaca akan sulit menebak jalan ceritanya, termasuk di bagian ending.

Bagi anda yang pernah membaca karya-karya Alexandre Dumas yang lain (Three Musketeers, The Man in the Iron Mask) pasti sudah familiar dengan gaya happy ending yang tidak lazim dari pengarang yang satu ini. Jadi jangan heran kalau anda termasuk satu di antara sebagian pembaca yang nantinya tidak setuju dengan bagaimana cerita The Count of Monte Cristo berakhir, karena tidak saja ending-nya susah ditebak, namun juga akan terasa sedikit bertentangan dengan norma-norma umum di masyarakat.

Menyenangkan sekali karena akhir-akhir ini banyak penerbit lokal mulai berani menerjemahkan karya-karya sastra klasik seperti The Iliad dan The Odyssey serta buku The Count of Monte Cristo ini. Bagaimanapun juga karya seperti ini memberikan pengetahuan lebih tentang sejarah, plus pesan moral yang dalam, yang sangat jarang dijumpai pada novel-novel modern.

Oh ya, novel ini juga sudah berkali-kali difilmkan, salah satunya adalah The Count of Monte Cristo (2002) yang dibintangi oleh Jim Caviezel dan Guy Pearce.

 

Artikel Menarik Lainnya:

Tags: ,