Berapakah Frekuensi Kencing Normal Seseorang?





Buang air kecil adalah salah satu cara tubuh untuk membuang racun-racun yang tidak diperlukan dalam badan. Cukup banyak orang yang bertanya-tanya, berapakah frekuensi kencing normal per hari? Banyak yang takut bahwa jika terlalu sering berkemih merupakan gejala awal dari suatu penyakit, seperti infeksi saluran kencing, pembesaran kelenjar prostat, atau bahkan diabetes.

Umumnya orang dalam kondisi sehat buang air kecil sekitar 3-4 jam sekali, dan bisa menahan keinginan kencing pada saat tidur malam selama 8 jam. Lantas apakah kalau kurang atau lebih dari itu berarti merupakan suatu pertanda adanya penyakit?

Kencing

Frekuensi Kencing Normal

Menurut Bladder and Bowel Foundation, rata-rata frekuensi kencing normal bagi orang yang minum 2 liter air per hari adalah sekitar 7 kali dalam 24 jam. Kurang maupun lebih dari itu, misalnya sekitar 6-8 kali kencing dalam sehari masih termasuk dalam batas yang wajar. Satu hal yang perlu diingat, frekuensi kencing yang berbeda, misalnya antara 4-10 kali per hari, juga belum tentu menunjukkan bahwa seseorang memiliki kondisi medis yang perlu diperhatikan. Hal ini karena ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kebiasaan buang air kecil seseorang, yang umumnya dipengaruhi pola hidup orang tersebut.

Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kebiasaan kencing seseorang antara lain; jumlah cairan yang dikonsumsi, tipe cairan yang dikonsumsi (minuman yang mengandung kafein seperti alkohol, kopi, dan teh, bisa meningkatkan frekuensi buang air kecil), suhu udara, obat-obatan yang mengandung diuretics, umur, aktivitas, dan ukuran kandung kemih seseorang.

Untuk menentukan apakah frekuensi kencing normal atau tidak, daripada menghitung seberapa sering kita berkemih, lebih baik kita melihat warna urine. Jika warnanya kuning keruh (mirip teh) atau gelap, berarti ada kekurangan cairan, dan sebaiknya menambah minum 1-2 gelas per hari. Sebaliknya, jika urine kita jernih, dan kita merasa terlalu sering kencing, kita bisa mengurangi minum sebanyak 1-2 gelas per harinya. Intinya, berapa kali pun kita kencing, asalkan warnanya jernih dan kita merasa nyaman, maka kemungkinan besar tidak ada yang salah dengan kebiasaan berkemih kita.

 

Ukuran Kandung Kemih

Seperti sudah disebutkan di atas, satu faktor yang mempengaruhi frekuensi kencing normal adalah ukuran kandung kemih (bladder) seseorang. Ada orang yang memiliki ukuran kandung kemih kecil (300 ml), sedang (500 ml), besar (800 ml) dan sangat besar (1000 ml +). Namun biasanya seseorang sudah merasa ingin kencing ketika kandung kemihnya sudah terisi kurang dari separuh (200-400 ml).

Perbedaan ukuran kandung kemih inilah yang menjadi alasan mengapa ada orang yang bisa menahan kencing selama 8 jam atau lebih, sedangkan yang lain harus berkemih setiap 1-2 jam sekali.

Kita bisa mengukur ukuran kandung kemih dengan cara mengukur jumlah air kencing yang kita keluarkan ketika benar-benar merasa ingin berkemih.

Ukuran kandung kemih sendiri tidak bisa diubah (kecuali lewat operasi), karena merupakan faktor genetis, namun bisa sedikit dilatih kekuatannya. Usahakan untuk tidak langsung ke kamar kecil setiap anda merasa kebelet, namun tahan dulu beberapa saat sampai anda merasa kandung kemih penuh. Hal ini akan membuat kandung kemih sedikit demi sedikit lebih terbiasa. Namun ingat, jangan menahan kencing terlalu berlebihan sampai terasa sakit, karena hal ini malah akan menyebabkan infeksi saluran kencing maupun kencing batu! Untuk lebih lengkapnya tentang cara bladder training ini bisa anda baca dari artikel health.com.

 

Ada beberapa gejala yang perlu kita perhatikan tentang frekuensi kencing, yaitu ketika kita sedikit minum namun sering sekali kencing, atau sebaliknya ketika kita sering minum namun warna urine tidak bisa menjadi jernih.  Selain itu, hal yang perlu diwaspadai adalah jika ada perubahan mendadak terhadap pola buang air kecil seseorang. Misalnya jika biasanya seseorang bisa tidur 8 jam di waktu malam tanpa perlu kencing, lalu tiba-tiba belakangan ini selalu terbangun setiap malam karena ingin berkemih. Kalau hal ini terjadi pada anda dalam jangka waktu yang cukup lama, sebaiknya memeriksakan diri ke spesialis urologi.

 

Artikel Menarik Lainnya: