Asterix and The Picts, Era Baru Komik Asterix





Asterix and The Picts, Album Pertama di Tangan Pengarang Baru

Siapa yang tidak kenal karakter Asterix dan sahabatnya, Obelix? Kisah sang pahlawan kecil Galia ini sudah meramaikan dunia komik sejak tahun 1959. 34 album Asterix sudah terjual lebih dari 325 juta kopi di seluruh dunia, dan diterjemahkan ke lebih dari 100 bahasa, termasuk bahasa Latin!

Asterix dan Obelix dengan baju suku Picts

Asterix dan Obelix dengan baju bangsa Picts

 

Pencipta komik Asterix adalah duo Prancis Rene Goscinny (cerita) dan Albert Uderzo (ilustrasi). Duet ini menghasilkan 24 album, plus beberapa cerita pendek yang disisipkan di album ke-32 dan 34. Ketika Goscinny meninggal di tahun 1977, Uderzo mengambil peran sang sahabat dan berhasil menerbitkan beberapa volume Asterix di mana ia bertindak sebagai pengarang sekaligus ilustrator. Peran ini berhasil ia jalankan dengan baik di beberapa album awal, seperti Desa Belah Tengah, Perjalanan ke Mesopotamia, maupun Bayi Asterix, di mana para penggemar berpendapat bahwa komik Asterix tidak kehilangan identitasnya dan masih terasa sama seperti ketika ditangani Goscinny-Uderzo.

Namun ketika Uderzo menerbitkan album Asterix ke-33 berjudul Asterix and the Falling Sky di tahun 2005, banyak penggemar merasa kecewa. Bayangkan, Asterix yang selama ini selalu bernuansa klasik tiba-tiba bertemu dengan mahkluk luar angkasa. Belum lagi humor dan sindiran cerdas khas komik ini terasa hilang dan berganti dengan kritik yang dianggap banyak pembaca terlalu anti-Amerika dan anti-Jepang, di mana Asterix harus menghadapi alien yang mirip Mickey Mouse, superhero yang hanya mengandalkan otot, dan robot ala manga.

Bagaimanapun juga, para penggemar masih memaklumi hal tersebut, apalagi usia Kakek Uderzo yang sudah semakin uzur (lahir tahun 1927), membuat mereka menduga bahwa The Falling Sky akan menjadi album terakhir Asterix. Untungnya dugaan tersebut salah. Uderzo memang pensiun setelah merilis album untuk merayakan 50 tahun lahirnya Asterix, yakni Asterix and Obelix’s Birthday: The Golden Book (2009). Nah, pada akhir tahun 2013, untuk pertama kalinya komik Asterix dipegang oleh orang yang bukan komikus aslinya, yakni Jean-Yves Ferri (cerita) dan Didier Conrad (ilustrator). Pada album ke-35 yang berjudul Asterix and the Picts ini, Albert Uderzo hanya bertindak sebagai supervisor dan menyumbang gambar untuk sampul depan.

 

Komik Asterix di Indonesia

Komik Asterix di Indonesia mulai diterbitkan sekitar tahun 80’an oleh penerbit Sinar Harapan. Total ada 30 album Asterix yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, dengan judul terakhir adalah Obelix yang Malang (Asterix and Obelix All at Sea/1996). Pada tahun tersebut manga mulai membanjiri Indonesia, mungkin itu menjadi salah satu pertimbangan penerbit untuk tidak melanjutkan serial ini. Apalagi sejak Uderzo sendirian menangani komik ini, jeda antara satu album ke album berikutnya memakan waktu bertahun-tahun (2-5 tahun).

Album Asterix yang belum sempat terbit di Indonesia adalah Asterix and the Actress (2001), Asterix and the Class Act (2003), Asterix and the Falling Sky (2005), Asterix and Obelix’s Birthday: The Golden Book (2009), serta Asterix and the Picts (2013).

Beberapa tahun ini penerbit Gramedia dan Elex Media sudah menerbitkan ulang komik-komik Eropa legendaris seperti Tintin, Lucky Luke, Smurf, dan Spirou. Semoga saja dalam waktu dekat mereka, atau penerbit lokal lain, mau menerbitkan ulang (termasuk album-album yang baru) komik Asterix. Karena Asterix benar-benar komik yang cocok untuk anak-anak, namun juga bisa dinikmati semua usia. Para orang tua akan merasa lebih baik untuk mengenalkan bacaan pada anak melalui komik semacam ini, daripada melalui manga yang sebagian besar justru lebih cocok untuk konsumsi dewasa.

 

Asterix and the Picts CoverAsterix and The Picts (English edition)

Penerbit: Orion
Pengarang: Jean-Yves Ferri (author), Didier Conrad (ilustrator)
Terbit: 24 Oktober 2013
Tebal: 48 halaman
Harga: US$12.25 (Hardcover)

Plot:

Ketika Asterix dan Obelix menyelamatkan seorang suku Pict yang misterius bernama MacAroon, mereka harus melakukan perjalanan ke Kaledonia (sekarang Skotlandia), untuk mengembalikannya ke wanita yang ia cintai, Camomilla, yang juga merupakan anak angkat dari raja terdahulu.

Namun, kepala suku yang culas MacCabeus berniat untuk menikahi Camomilla demi merebut tahta kerajaan – dengan bantuan para Romawi!

Dengan diselingi olahraga melempar batang pohon, alat musik tiup, minuman keras, dan monster air di sebuah danau, bisakah para pahlawan Galia kita menyatukan kembali MacAroon dengan Camomilla, sambil menikmati menghajar para prajurit Romawi di sepanjang perjalanan?

The Good
Kembali ke formula klasik Asterix • tampilnya banyak elemen penting ciri khas komik Asterix • artwork yang sama dengan gaya Uderzo
The Bad
Plot datar • Humor dan pun (permainan kata) masih jauh dari standar Goscinny
Rating: 6,5 / 10

 

Review Komik Asterix and the Picts:

Cerita-cerita terbaik komik Asterix sebagian besar terjadi jauh di luar desa Galia, seperti pada album Asterix di Inggris, Asterix dan Cleopatra, Asterix di Olimpiade, atau Menyeberang Samudra. Pertemuan duo Asterix-Obelix yang sangat bangga dengan identitas Galia mereka dengan kebudayaan-kebudayaan asing kerap menimbulkan situasi lucu dan permainan kata-kata yang menarik.

Ketika Uderzo menulis sendiri plot Asterix setelah meninggalnya Goscinny, muncul beberapa cerita “aneh”, seperti roman yang terlalu banyak di Mawar dan Pedang Bermata Dua, dan cerita yang terlalu futuristis/sci-fi di The Falling Sky. Meskipun ada penggemar yang suka karena dianggap sebagai sebuah penyegaran terhadap serial ini, namun tetap lebih banyak yang kecewa akibat perubahan yang dinilai terlalu radikal.

Sekarang, para pengarang baru Asterix mencoba kembali ke pakem lama, yakni petualangan Asterix dan Obelix ke daerah asing, yang kali ini mengambil tempat di Skotlandia. Mudah ditebak, akan muncul banyak situasi lucu akibat bertemunya para Galia dengan para Picts ini. Contohnya desa Galia yang tiba-tiba terkena demam pakaian khas Skotlandia yakni kain kotak-kotak yang menyerupai rok, sindiran Obelix yang menganggap bangsa Picts sebagai pemain bola karena mereka ber-tato, munculnya monster Nessie yang sifatnya mirip Dogmatix (Idefix) jika bertubuh raksasa, dll.

Nessie, yang oleh Obelix dianggap mirip Idefix

Nessie, yang oleh Obelix dianggap mirip Idefix

 

Cerita yang klasik ini juga ditambah template khas yang selalu muncul di kisah-kisah sukses Asterix, seperti masalah sang pemimpin desa Vitalstatistix (Abraracourcix) dengan tandunya, istri-istri cerewet para penduduk desa Galia, batu menhir Obelix, ramuan jamu ajaib Getafix (Panoramix), para bajak laut naas, plakeplak dengan prajurit Romawi, nama-nama lucu karakter bangsa Picts yang semuanya berawalan Mac-, dan tentunya diakhiri dengan pesta babi hutan seluruh penduduk desa Galia.

Bukan komik Asterix namanya jika tanpa menghajar para Romawi.

Bukan komik Asterix namanya jika tanpa menghajar para Romawi.

 

Sayangnya, usaha untuk kembali ke formula klasik Asterix ini belum sepenuhnya berhasil.

Cerita hanya terlihat menarik dan terasa seperti era kejayaan Asterix dulu di beberapa halaman awal saja, ketika Asterix dan Obelix masih berada di desa Galia dengan segala kesibukannya. Justru setelah sampai di tanah Skotlandia cerita menjadi cenderung datar, agak membosankan, dan kurang sentuhan humor.

Jika kita melihat kisah-kisah terbaik Asterix yang mengambil tempat di luar desa Galia, akan mudah sekali untuk mengingat sindiran-sindiran komik ini pada kebudayaan asing. Misalnya tentang kebiasaan minum teh orang Inggris (walaupun saat itu belum ditemukan teh karena minuman ini baru dikenal Inggris setelah dibawakan oleh Asterix), orang-orang Swiss yang sangat tepat waktu dan harus membalik jam pasir tiap jam tanpa boleh terlambat, orang Corsica yang sangat marah jika diganggu tidur siangnya, ataupun perbedaan kelas antara orang Yunani dengan Sparta.

Sedangkan pada komik ini, parodi tentang bangsa Picts agak terasa kurang, padahal kesempatan untuk itu terbilang banyak. Mungkin beberapa minggu setelah membaca, kita akan sulit untuk mengingat momen yang mengundang tawa dari album kali ini. Dibanding standar tinggi yang sudah diberikan oleh Goscinny, humor dan pun (permainan kata) di Asterix and the Picts memang terkesan terlalu “lunak”.

Sebaliknya dari sisi artwork, komik Asterix and the Picts nyaris sempurna. Gambar yang dihasilkan oleh Conrad sangat setia pada gaya Uderzo, sehingga pembaca yang sebelumnya tidak tahu mungkin tidak akan merasa bahwa ilustrator komik ini sudah berubah. Secara fisik, karakter Asterix, Obelix, dan seluruh penghuni desa Galia sangat mirip dengan karya Uderzo. Walaupun secara “jiwa” mungkin Conrad belum berada pada level yang sama dengan sang pendahulunya. Goresan tangan Uderzo memang luar biasa, di mana kita sering bisa menangkap kelucuan dari para karakter hanya dengan melihat gambarnya saja, walaupun tanpa kata-kata.

Gambar para penduduk desa Galia, masih mirip dengan buatan Uderzo

Gambar para penduduk desa Galia, masih mirip dengan buatan Uderzo

 

Secara keseluruhan, Asterix and the Picts memang belum bisa menyamai album-album sebelumnya yang legendaris. Tidak jelek, namun juga tidak istimewa. Namun sebagai album pertama di tangan pengarang baru, karya ini cukup menjanjikan, dan Demi Toutatis, penggemar bisa merasa tenang karena para pahlawan Galia ciptaan Goscinny-Uderzo ini kelihatannya sudah menemukan tangan yang tepat untuk melanjutkannya.

Artikel Menarik Lainnya: