Kung Fu Delapan Mata Angin (Bājíquán)





Pernah membaca komik Kenji yang diterbitkan Elex di tahun 90’an? Manga ini bercerita tentang seorang remaja Jepang yang mempelajari Kung fu Delapan Mata Angin dari China. Kungfu Delapan Mata Angin ini sendiri bukanlah sebuah rekaan, melainkan jenis beladiri yang benar-benar ada dan memiliki nama asli Bājíquán.

Komik Kenji sendiri dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dari pengarangnya, Ryuchi Matsuda. Master Ryuchi Matsuda (lahir tahun 1931) pernah mempelajari berbagai macam seni beladiri China, termasuk Bajiquan, dan berjasa besar dalam memperkenalkannya ke seantero Jepang.

 

Ryuchi Matsuda memperagakan Kung fu Delapan Mata Angin

 

Filosofi Kung fu Delapan Mata Angin

Kembali ke Kungfu Delapan Mata Angin/Bājíquán, beladiri ini termasuk dalam salah satu beladiri kuno yang sangat mematikan, karena ketika diciptakan pada jamannya memang diorientasikan pada pertarungan, bukan sebagai sebuah seni. Juga dikenal sebagai Hakkyokuken (Jepang), Bajiquan mempunyai ciri khas serangan jarak pendek yang sangat meledak-ledak, termasuk pukulan siku yang merupakan trademark beladiri ini.

Bājíquán merupakan antithesis dari Taichi. Jika Taichi gerakannya seperti air yang mengalir dan banyak memanfaatkan tenaga lawan untuk menyerang balik, tidak demikian halnya dengan Kung fu Delapan Mata Angin ini. Kungfu ini gerakannya seperti letusan gunung berapi, yakni eksplosif dan terputus-putus. Jurus-jurusnya yang sederhana, harus disertai dengan pengolahan tenaga dan pernafasan yang menghasilkan daya serang luar biasa.

Praktisi beladiri ini diharuskan mengulang satu jurus hingga ratusan, bahkan ribuan kali, sampai bisa melakukannya dengan sempurna, baru mempelajari jurus yang lain. Hal ini juga ditekankan dalam komik Kenji, di mana ada satu kutipan yang bunyinya “Jangan takut kepada orang yang mempunyai banyak jurus, tetapi waspadalah kepada orang yang mempelajari satu jurus dan melatihnya terus menerus”.

Terdapat banyak aliran dalam Bājíquán, seperti aliran Wu, aliran Mo, aliran muslim China, aliran Lie, dan lain-lain. Walaupun mirip, masing-masing aliran mempunyai ciri khas sendiri, yang menerapkan perubahan dari sang pengembang aliran. Namun pada dasarnya Kung fu Delapan Mata Angin menerapkan Enam Pembukaan Besar (Liu Da Kai), yakni:

  • Ding: gunakan tinju, siku, dan bahu untuk menyerang ke depan dan ke atas
  • Bao: gabungan kedua lengan seperti gerakan memeluk, dilanjutkan dengan Pi (memisah)
  • Ti: gerakan kaki; lutut ke selangkangan lawan, ujung kaki ke dagu lawan, dll
  • Dan: gunakan satu serangan
  • Kua: gunakan pinggang untuk menambah daya serang
  • Chan: gunakan gerakan melingkar/belitan di pergelangan tangan, siku, dan bahu.

 

Serangan siku sambil meluncur ke depan yang sering diperlihatkan dalam manga Kenji

 

Li Shuwen/Lie Syo Bun

Belum diketahui secara pasti siapa pencipta dari Kung fu Delapan Mata Angin , tetapi tercatat perguruan pertama yang menerapkan Bajiquan didirikan oleh Wu Zhong (1712-1802). Salah satu yang mempopulerkan aliran Wu adalah Li Shuwen (1864-1934, yang pada komik Kenji dikenal dengan nama Lie Syo Bun). Master Li dijuluki sebagai Dewa Tombak, dan kutipannya yang paling terkenal adalah, “Aku tidak tahu bagaimana rasanya memukul seseorang dua kali“, sesuai dengan filosofi Bajiquan untuk menjatuhkan lawan hanya dengan satu serangan.

Di antara murid Li Shuwen adalah Huo Dian Ge (Kaku Den Kaku), bodyguard dari Li Pu Yi, kaisar terakhir China. Selain itu juga ada Liu Yun Qiao (Liu Gekkyu) yang di manga diceritakan sebagai guru dari Kenji Goh. Liu Yun Qiao (1909-1992) adalah seorang agen rahasia, ia juga mengajarkan beladiri kepada bodyguard Chiang Khai Shek.

 

Kung-fu-delapan-mata-angin

Ilustrasi Lie Syo Bun dalam manga Kenji


Artikel Menarik Lainnya: