Review Buku Majapahit – Sandyakala Rajawangsa





Majapahit Sandyakala Rajawangsa Bentang 196x300Majapahit – Sandyakala Rajawangsa

Penerbit: Bentang Pustaka
Pengarang: Langit Kresna Hariadi
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 614 halaman
Harga: Rp. 89.000

Plot:

Keris itu berdiri tegak. Berpasang-pasang mata menatapnya terkesima. Bukan hanya karena mereka mengenalinya sebagai keris Empu Gandring yang selalu membawa kutukan maut. Tetapi karena mereka sangat yakin, telah memusnahkannya dalam gelegak kawah Gunung Penanggungan puluhan tahun yang lalu.

Kegelisahan menyergap. Pertanda apakah ini? Di pelupuk mata setiap prajurit, bayang-bayang peperangan mulai membayang. Sekali lagi, banjir darah bakal tertumpah di bumi Singasari.

Sandyakala Rajasawangsa, sebuah epos tentang cikal kerajaan besar nusantara: Majapahit. Ditulis oleh penulis kawakan, novel ini adalah salah satu rekam sejarah sepenggal perjalanan bangsa ini.

 

The Good
Perpaduan menarik antara fiksi dengan sejarah • gaya penulisan khas LKH yang ringan dan enak dibaca
The Bad
Terlalu banyak unsur supranatural • munculnya tokoh fiktif dari buku LKH sebelumnya
Rating: 7/10

 

Review Novel Majapahit – Sandyakala Rajawangsa:

Sebenarnya agak jengkel juga ketika saya mengetahui bahwa Pak Langit Kresna Hariadi (LKH) menulis buku baru lagi, yakni Majapahit, karena dua judul sebelumnya, yakni Candi Murca (sudah terbit 4 buku) dan Perang Paregreg (2 buku) tidak kunjung terbit lanjutannya. Apalagi setelah saya tahu bahwa Majapahit ini pun dibuat berseri juga, dan Sandyakala Rajawangsa baru merupakan buku pertama, sehingga saya semakin pesimis akan kelanjutan dua judul tadi. Namun apa boleh buat, karena saya menilai Pak LKH adalah penulis novel fiksi sejarah terbaik di satu dekade terakhir, maka dengan agak “terpaksa” saya beli dan baca novel Majapahit ini.

Seperti yang bisa ditebak dari judulnya,  novel Majapahit seri pertama ini menceritakan saat-saat senja (sandyakala) atau menjelang runtuhnya kerajaan Singasari, yang merupakan cikal-bakal dari kerajaan Majapahit. Cerita pada buku ini berpusat pada konflik-konflik yang terjadi pada masa akhir pemerintahan raja terakhir Singasari, yakni Sri Kertanegara.

Penyebab utama keruntuhan Singasari adalah dendam turun-temurun dari rakyat Kediri, yang masih mengingat dengan jelas penaklukan Kediri oleh Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok, yang berujung pada terbunuhnya raja Kediri pada masa itu, Sri Kertajaya. Walaupun belum lahir ketika kejadian itu terjadi, agaknya masyarakat Kediri di bawah pimpinan Jayakatwang selalu menyimpan ketidakpuasan terhadap Singasari yang dikuasai oleh para keturunan Ken Arok.

Ancaman bagi Singasari tidak hanya datang dari halaman rumah mereka sendiri. Di seberang lautan, sang penakluk dari Mongol, Kubilai Khan, mengutus Meng Khi untuk menghadap Sri Kertanegara agar mau tunduk di bawah kekuasaan Mongol. Murka dan merasa dilecehkan, sang raja memotong telinga Meng Khi dan mengusir utusan dari Mongol ini kembali ke negaranya. Bisa ditebak, Meng Khi akan kembali dengan puluhan ribu bala tentara Mongol dalam waktu beberapa tahun ke depan.

Dengan ancaman dari dalam dan luar negeri, Sri Kertanegara masih memutuskan untuk melakukan ekspedisi militer ke Dharmasraya, dengan harapan bisa menyatukan kerajaan-kerajaan di Sumatra untuk bersama-sama menghadapi serbuan Mongol. Keputusan ekspedisi ini ditentang beberapa perwira dan pejabat Singasari, sehingga Sri Kertanegara pun masih harus disibukkan dengan konflik yang terjadi di dalam pemerintahannya sendiri.

Pemberontakan Kediri, ancaman dari Mongol, ekspedisi ke Dharmasraya, dan tindakan makar pejabat pemerintahan Singasari, semuanya benar-benar terjadi dan tercatat dalam sejarah. Fakta historis ini, ditambah dengan drama yang terjadi pada para tokoh nyata seperti Kertanegara, Jayakatwang, Raden Wijaya, Ranggalawe, dan putri Gayatri, menjadikan novel Majapahit sebagai perpaduan menarik antara fiksi dengan sejarah.

Bagi anda yang sudah pernah membaca pentalogi Gajah Mada maupun seri Candi Murca, tentunya sudah paham dengan gaya penulisan Pak LKH yang tidak semata-mata menonjolkan unsur sejarah belaka. Unsur budaya, percintaan, aksi silat, ditambah sedikit sentuhan komedi, menjadikan buku-buku beliau tidak hanya menarik untuk pembaca “senior”, melainkan bisa mengajak generasi muda untuk belajar sejarah tentang kebesaran Nusantara dengan cara yang tidak membosankan.

Kalau ada hal yang agak mengganjal dari novel Majapahit ini adalah banyaknya unsur supranatural, seperti tokoh yang hidup ribuan tahun, keris yang bisa bertarung sendiri tanpa dipegang, arwah orang mati yang menunggang kuda, dan bintang berekor yang tampak tiap malam. Mungkin hal-hal semacam ini bisa dianggap relevan untuk masa-masa itu, tapi jika dimunculkan terlalu banyak dan mempengaruhi jalan cerita utama, malah akan terasa ganjil (Contohnya bagaimana Kertanegara secara mengejutkan memecat patihnya, karena beliau digambarkan sedang kerasukan keris Mpu Gandring).

Selain itu, munculnya tokoh fiksi seperti Surya Medari (Parameswara) mungkin akan membingungkan pembaca. Bagi yang belum tahu, tokoh yang digambarkan memiliki hidup abadi ini muncul di buku Pak LKH sebelumnya, yakni Candi Murca. Memang sah-sah saja bagi seorang penulis untuk meng-cross over para karakter rekaannya, apalagi buku Candi Murca memang secara timeline kejadiaanya sebelum novel Majapahit. Hanya saja kemunculan karakter ini, yang perannya cukup penting di jalan cerita, tidak disertai dengan penjelasan tentang latar belakangnya, seolah-olah memaksa pembaca untuk membeli buku sebelumnya sekedar untuk mengenal tokoh ini.

Akhir kata, walaupun menarik dan enak dibaca, novel Majapahit ini agak terasa nanggung, karena justru selesai ketika konflik antara Singasari-Kediri hendak mencapai puncaknya. Jadi kalau anda tipe orang yang tidak sabaran dalam menanti kelanjutan cerita, sebaiknya tunggu saja sampai seri berikutnya terbit sebelum membeli buku ini.

 

Artikel Menarik Lainnya:

Tags: ,