Resensi Novel Inferno karya Dan Brown





novel-infernoInferno (English edition)

Penerbit: Doubleday
Pengarang: Dan Brown
Terbit: 14 Mei 2013
Tebal: 480 halaman
Harga: US$16.19 (hardcover)

Plot:

Profesor simbologi dari Harvard Robert Langdon terbangun pada tengah malam di sebuah rumah sakit. Kebingungan dan menderita luka di kepala, dia tidak bisa mengingat kejadian selama tiga puluh enam jam terakhir, termasuk bagaimana ia bisa berada di tempat itu….atau pun tentang asal muasal benda mengerikan yang ditemukan oleh dokternya tersembunyi di antara benda-benda yang dia bawa.

Dunia Langdon akan segera berubah menjadi kacau, dan dia akan mendapati dirinya sedang melarikan diri di Florence dengan seorang wanita tangguh, Siena Brooks, yang dengan tindakan cerdas sudah menyelamatkan nyawanya. Langdon juga akan menyadari bahwa dia sedang membawa sebuah seri dari kode-kode rahasia yang diciptakan oleh seorang ilmuwan brilian – seorang jenius yang obsesinya terhadap kiamat hanya bisa diimbangi oleh gairahnya terhadap salah satu karya sastra paling berpengaruh yang pernah ditulis di dunia – Inferno, sebuah puisi epik dan kelam karya Dante Alighieri

Berpacu melalui lokasi-lokasi bersejarah seperti Palazzo Vecchio, Boboli Gardens, dan Duomo, Langdon dan Brooks menguak sebuah jaringan lorong-lorong tersembunyi dan rahasia-rahasia kuno, sekaligus juga sebuah paradigma ilmu pengetahuan baru yang bisa digunakan entah untuk kemajuan umat manusia…..atau sebaliknya untuk memusnahkan kehidupan.

 

The Good
Alur cepat dan twisty • banyak fakta menarik tentang sejarah maupun ilmu pengetahuan • mengusik keingintahuan pembaca terhadap Dante dan puisinya, Inferno
The Bad
Formula khas Dan Brown mulai terasa klise dan membosankan
Rating: 7 / 10

 

Review Novel Inferno:

Inferno adalah novel ke-4 dari Dan Brown yang menggunakan tokoh utama profesor simbologi Robert Langdon, setelah The Da Vinci Code, Angels & Demons, dan The Lost Symbol.

Kali ini Robert Langdon akan berusaha memecahkan petunjuk-petunjuk dari seorang ilmuwan eksentrik yang diduga menciptakan sebuah senjata biologi baru. Ilmuwan bernama Bertrand Zobrist ini memiliki gairah tinggi terhadap karya-karya penyair Italia abad pertengahan, Dante Alighieri, terutama terhadap puisinya yang berjudul Inferno, yang menceritakan perjalanan Dante ke neraka.

Semua kode dan petunjuk yang ditinggalkan Zobrist berkaitan dengan isi puisi Inferno, yang mengantar Langdon ke jalanan dan lorong-lorong rahasia kota Florence, yang juga merupakan kota kelahiran Dante. Langdon, dibantu dengan dokter cantik Siena Brooks, akan berusaha memecahkan misteri tentang hubungan antara Inferno dengan obsesi Zobrist tentang akhir dunia.

Seperti buku-buku Dan Brown  sebelumnya, novel Inferno ditulis dengan gaya penuturan ringkas dengan alur cepat. Bab-bab yang dibuat singkat menjadikan buku ini sebuah page turner yang membuat kita sulit untuk meletakkannya sebelum selesai. Apalagi dengan ditambahkannya beberapa twist di bagian akhir, akan memberikan kejutan bagi pembaca yang sudah berpikir bahwa buku ini akan berakhir dengan begitu-begitu saja.

Banyak di antara pembaca yang mungkin belum familiar dengan nama Dante Alighieri dan karya-karyanya. Namun seperti yang dilakukan Dan Brown pada The Da Vinci Code, yang membuat pembaca menjadi lebih tertarik untuk mengenal lebih jauh sosok Leonardo Da Vinci, pada Inferno ini pun keingintahuan kita kepada sosok Dante akan diusik.

Sosok Dante yang merupakan salah satu orang terpenting di sejarah literatur dunia ini bukan satu-satunya referensi sejarah yang dihadirkan Dan Brown di novel Inferno. Kita juga akan diajak menjelajahi bangunan-bangunan kuno kota Florence dan Venice, lengkap dengan landmark dan lorong-lorong tersembunyinya. Fakta ilmu pengetahuan seperti bahwa dunia akan kiamat disebabkan oleh populasi manusia yang makin tidak terkendali, juga dituliskan dengan meyakinkan. Tidak mengherankan, karena untuk menuliskan satu buku saja Dan Brown melakukan riset selama bertahun-tahun, termasuk dengan secara langsung mengunjungi lokasi-lokasi tempat terjadinya cerita.

Bagi anda yang tidak suka dengan fakta-fakta yang terlalu “berat”, jangan khawatir. Sejarah Dante, landscape kota Florence dan Venice, maupun paparan tentang science dituliskan secara manis dan alamiah oleh Dan Brown sebagai bagian dari cerita, sehingga sama sekali tidak mengganggu alur yang cepat.

Novel Inferno juga berisi formula khas Dan Brown yang memberinya kesuksesan luar biasa di buku-buku sebelumnya; pertentangan antara ilmu pengetahuan vs iman/religi, pemecahan kode dan simbol, partner wanita yang cantik untuk Profesor Langdon, dan organisasi rahasia yang mengejar-ngejar sang profesor.

Sayangya elemen-elemen tersebut mulai terasa repetitif dan membosankan. Sebagai contoh, karakter Siena Brooks yang digambarkan sebagai wanita cantik dan cerdas, dihadirkan seolah-olah hanya untuk menantang ego sang profesor, sama persis seperti tiga wanita berbeda dari tiga novel Robert Langdon sebelumnya. Tidak ada hubungan yang lebih humanis dan personal antara Langdon dengan sang tokoh wanita.

Elemen klise lain, Robert Langdon yang “hanya” seorang profesor tampaknya jauh lebih sulit ditangkap daripada seorang agen rahasia macam James Bond. Organisasi internasional dengan agen-agen terlatih dan peralatan canggih sepertinya sangat sulit untuk menangkap Langdon dan partnernya. Adegan-adegan lolos dari lubang jarum banyak terdapat di novel ini, sehingga ada kesan sepertinya bagian-bagian ini ditulis semata-mata agar kisah ini nantinya lebih menjual ketika dibuat menjadi film oleh Hollywood.

Pertentangan antara science vs religion masih cukup menarik untuk disimak, walaupun tidak se-provokatif  dan se-kontroversial dua novel awal Dan Brown. Kalau saja ini adalah novel debut dari Dan Brown, tentunya ini adalah sebuah karya yang istimewa. Namun karena Brown sendiri sudah membuat standar yang tinggi melalui The Da Vinci Code dan Angels & Demons, novel Inferno jadi terasa seperti bacaan yang biasa-biasa saja (walaupun masih lebih baik dibandingkan The Lost Symbol).

 

Artikel Menarik Lainnya:

Tags: , ,