Review Buku The Day of the Jackal





buku-the-day-of-the-jackalThe Day of The Jackal

Penerbit: Serambi
Pengarang: Frederick Forsyth
Terbit: Juni 2011
Tebal: 612 halaman
Harga: Rp. 69.000

Plot:

Seorang pria Inggris yang hanya dikenal dengan nama sandi: Jakal, disewa oleh organisasi pemberontak Prancis untuk membunuh Presiden Charles de Gaulle. Sebelumnya, upaya-upaya pembunuhan terhadap sang presiden selalu gagal. Informasi dan perencanaannya bocor ke tangan pemerintah lewat agen-agen yang disusupkan ke dalam organisasi rahasia tersebut.

Namun, kali ini serangan sang Jakal akan benar-benar rahasia dan mematikan!

Tidak ada satu pun arsip dan data yang dimiliki oleh pihak keamanan Prancis dan bahkan dinas rahasia di seluruh dunia terhadap pembunuh bayaran profesional top dunia ini. Tidak diketahui kapan, di mana, dan bagaimana sang Jakal akan beraksi. Perburuan pun dilakukan. Semua sumber daya keamanan dan informasi dikerahkan hanya untuk memburu satu orang yang tak bernama dan tak jelas pula ciri-ciri fisiknya. Namun yang pasti, nyawa sang presiden menjadi taruhannya dan Komisaris Claude Lebel, detektif terbaik Prancis, harus berpacu dengan waktu untuk meringkusnya.

Novel thriller terbaik di kelasnya ini telah mengilhami banyak peristiwa serupa di berbagai belahan dunia. Diceritakan dengan mendetail, seru, dan menegangkan, membuat Anda enggan meletakkannya sebelum membacanya sampai halaman terakhir.

 

The Good
Tidak terasa seperti kisah fiksi • tokoh utama anti-hero yang unik • kaya akan detail spionase
The Bad
Para karakter yang kurang sentuhan emosional • ending yang kurang klimaks
Rating: 8 / 10

 

Review Buku The Day of The Jackal:

Sudah jamak bahwa setiap pemimpin besar di berbagai negara di dunia selalu dicintai oleh sebagian orang, dan dibenci oleh sebagian lainnya. Abraham Lincoln, Winston Churchill, Nelson Mandela, Soekarno, Fidel Castro, dan Charles de Gaulle adalah beberapa contoh. Buku The Day of The Jackal adalah kisah fiktif tentang upaya pembunuhan terhadap presiden Prancis di tahun 60’an, de Gaulle.

Di bagian awal buku, kita akan disuguhi alasan kenapa mantan presiden yang namanya diabadikan menjadi nama bandara di Paris ini begitu dibenci, terutama karena keputusannya membiarkan Algeria (Aljazair) merdeka dari jajahan Prancis.

Pihak-pihak penentang de Gaulle sudah berkali-kali melakukan upaya pembunuhan, namun mereka berkali-kali gagal karena ketatnya pengawalan terhadap sang jenderal. Selain itu Prancis juga memiliki jaringan kontra intelijen yang handal, yang tidak segan-segan menggunakan segala cara untuk mengorek informasi, termasuk dengan penculikan dan penyiksaan kepada orang-orang yang dicurigai sebagai pemberontak.

Karena tidak bisa lagi mengandalkan jaringan lokal yang rawan akan kebocoran informasi, 3 pentolan organisasi pemberontak OAS memutuskan untuk menyewa pembunuh bayaran dari luar negeri: The Jackal, yang identitasnya tidak diketahui oleh dinas rahasia Prancis.

Sang pengarang Frederick Forsyth adalah seorang jurnalis yang pernah ditugaskan ke Prancis pada masa-masa itu. Dia berteman dengan beberapa bodyguard de Gaulle, dan bahkan pernah juga meliput di lokasi di mana sebuah upaya pembunuhan terhadap de Gaulle gagal dilakukan. Hal ini membuat dia mempunyai pengetahuan mendalam tentang situasi Prancis pada masa itu, yang semuanya dituangkan dengan apik di buku The Day of the Jackal. Kita akan merasa seolah-olah membaca sebuah kisah yang benar-benar pernah terjadi di masa lampau, ketimbang membaca sebuah novel fiksi.

Bagian pertama dari buku ini: Anatomi Sebuah Perencanaan, menceritakan persiapan Sang Jakal untuk melakukan misinya dengan detail yang luar biasa. Proses pembuatan paspor palsu, mempersiapkan identitas ganda, pembuatan senapan customized, semua digambarkan secara rinci oleh Frederick Forsyth, yang memang pakarnya cerita spionase dan kriminal.

Bagian kedua dari buku ini: Anatomi Perburuan Manusia menceritakan tentang bagaimana detektif terbaik Prancis, Claude Lebel, harus melacak sang pembunuh hanya dengan satu-satunya petunjuk: nama Jackal. Lebel adalah tokoh yang digambarkan sebagai anti-hero: berusia setengah baya, tubuh pendek gemuk, dan suami yang takut pada istri! Namun ia memiliki pemikiran yang cerdas dan metodis, yang membuat dia sedikit demi sedikit bisa mengungkap rencana Sang Jakal.

Penggambaran yang apik tentang spionase dan kondisi sosial politik Prancis pada masa itu, sayangnya tidak diimbangi dengan penggambaran karakter yang lebih dalam. Pengarang lebih memilih fokus terhadap apa dan bagaimana para tokoh utama melakukan tugasnya, dan sedikit mengabaikan tentang perasaan maupun motivasi mereka dalam bekerja. Kita akan sulit merasa simpati maupun antipati terhadap salah satu dari Lebel maupun Jakal, karena kurangnya sentuhan emosional membuat dua karakter utama ini terasa “datar”.

Sebuah resiko dari mengambil tema dengan latar belakang sejarah adalah, sang pengarang tidak bisa leluasa untuk membuat ending yang dia inginkan. Fakta bahwa Charles de Gaulle meninggal dalam damai sebelum ulang tahunnya yang ke-80, membuat pembaca mudah untuk menebak bagaimana akhir kisah ini. Hal ini sedikit mengurangi klimaks dari pertarungan Lebel vs Jackal, yang intensitasnya sudah dibangun dengan susah payah oleh sang pengarang sejak awal novel.

Namun memang bukan itu esensi dari buku The Day of the Jackal ini, yang menitikberatkan pada perencanaan dan eksekusi. Bagaimana The Jackal bisa tetap gagal walaupun sudah merencanakan aksinya dengan tingkat ketelitian tinggi membuat buku The Day of The Jackal tetap menarik sampai halaman terakhir.

 

Artikel Menarik Lainnya:

Tags: ,