Review Buku The Tokyo Zodiac Murders





buku-tokyo-zodiac-murdersDetective Mitarai’s Casebook – The Tokyo Zodiac Murders

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Pengarang: Soji Shimada
Terbit: Juli 2012
Tebal: 360 halaman
Harga: Rp. 55.000

Plot:

Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman.

Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai—astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri—ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka—dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.

Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

 

The Good
Menantang pembaca untuk memecahkan kasus sebelum selesai membaca • Trik pada kasus terlihat sederhana namun brilian.
The Bad
Alur datar • Para tokoh utama yang kurang menarik
Rating: 7,5 / 10

 

Resensi Buku Tokyo Zodiac Murders:

Pada buku Tokyo Zodiac Murders, terdapat tiga kasus yang saling berkaitan: pembunuhan ruang tertutup terhadap seorang seniman dan astrolog Heikichi Umezawa, pembunuhan terhadap Kazue yang merupakan putri dari istri ke-2 Heikichi, dan pembunuhan masal terhadap 4 putri serta 2 keponakan perempuan yang tinggal serumah dengan Heikichi.

Heikichi sendiri meninggalkan sebuah surat wasiat, tentang ide gilanya untuk membuat seorang wanita sempurna Azoth, dengan cara memutilasi bagian-bagian tubuh terbaik dari enam orang wanita, untuk kemudian menyatukkannya menjadi satu sosok peremnpuan tanpa cela.

Dalam wasiatnya sang pelukis juga menjelaskan bahwa keenam wanita yang hendak dia jadikan korban untuk Azoth ini adalah empat putri kandungnya (dari dua istri), dan dua putri dari adik laki-lakinya, Yoshio.

Masalahnya, pembunuhan terhadap keenam wanita yang dilakukan berdasarkan petunjuk astrologi pada wasiat Heikichi ini justru terjadi setelah sang seniman ditemukan tewas. Siapakah orang yang berusaha mewujudkan imajinasi Heikichi tentang wanita ideal Azoth tersebut? Dan apa pula hubungannya dengan terbunuhnya Kazue yang bukan darah daging dari Heikichi?

Selama 40 tahun, tidak ada yang berhasil memecahkan kasus misterius yang sempat mengguncang Jepang ini. Hingga suatu saat seorang ilustrator Kazumi Ishioka menyerahkan dokumen lengkap tentang Tokyo Zodiac Murders kepada sahabatnya, seorang peramal dan detektif amatir Kiyoshi Mitarai. Berdua, mereka berusaha mengurai satu demi satu petunjuk rumit dalam kasus ini.

Ada satu tantangan yang diberikan oleh sang pengarang Soji Shimada untuk para pembaca buku Tokyo Zodiac Murders, yaitu bisakah kita memecahkan kasus sebelum Kiyoshi Mitarai mengungkapkan kebenaran. Semua petunjuk sudah diberikan oleh sang pengarang, sehingga apa yang diketahui Kiyoshi juga diketahui oleh pembaca, tanpa ada satu pun yang disembunyikan.

Petunjuk-petunjuk diberikan secara detail oleh sang pengarang, bahkan juga dilengkapi dengan diagram dan ilustrasi. Semua kunci teka-teki tersebut akan terlihat penting, namun beberapa di antaranya ternyata tidak berguna dan menyesatkan pemikiran sang detektif maupun para pembaca.

Trik yang dilakukan oleh si pembunuh pada buku Tokyo Zodiac Murders ini juga cukup sederhana, namun terkubur dalam-dalam oleh berbagai teori dan petunjuk yang sebenarnya tidak relevan. Bagi pembaca yang tidak berhasil menebak sang pembunuh, mungkin pada akhir buku akan berkata “oh iya ya, ternyata begitu saja” sambil di saat bersamaan menyalahkan diri sendiri kenapa hal yang kelihatannya mudah malah tidak terpikirkan sebelumnya.

Semua faktor penting dari sebuah cerita misteri/detektif yang baik juga ada dalam buku Tokyo Zodiac Murders ini: motif pembunuhan yang tidak mengada-ada, trik yang brilian namun logis, petunjuk dibuka semua pada pembaca, dan kasus yang kelihatannya tidak masuk akal namun dengan penyelesaian yang sederhana. Mengutip kata-kata dari Shinichi Kudo (Detective Conan):

 “Once you eliminate the impossible, whatever remains, no matter how improbable, must be the truth.

Dari gaya penulisan, buku ini agak mirip dengan kisah Sherlock Holmes. Jika pada novel-novel Sherlock Holmes Dr. Watson seolah-olah bertindak sebagai sang penulis cerita, maka buku Tokyo Zodiac Murders juga dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, yakni Kazumi Ishioka.

Karakter dan relasi dari Kazumi Ishioka-Kiyoshi Mitarai juga mirip dengan Watson-Holmes, di mana Kazumi selalu merasa Kiyoshi meremehkan kecerdasannya, sehingga ia selalu tertantang untuk mencari petunjuk dan memecahkan kasus lebih dahulu daripada Kiyoshi. Kazumi juga harus selalu bersabar dalam menghadapi sifat moody dan eksentrik dari Kiyoshi, di mana hanya sebuah garis tipis yang memisahkan antara kejeniusan dan kegilaan pada diri sang detektif (sifat yang lagi-lagi mirip Holmes). Ironisnya, pada beberapa halaman buku ini Kiyoshi Mitarai malah mengejek kisah dan kepribadian Sherlock Holmes yang disebutnya tidak logis. Tidak jelas apakah sang pengarang sebenarnya mengaggumi karya-karya Sir Arthur Conan Doyle, ataukah masuk golongan anti-Holmes seperti Maurice LeBlanc dengan Arsene Lupin-nya.

Selain para tokoh utama yang sifatnya agak copycat ini, alur penulisan buku Tokyo Zodiac Murders juga cenderung datar-datar saja. Tidak ada kejadian-kejadian menegangkan seperti pada buku-buku Holmes, ataupun kisah drama dan roman seperti pada novel-novel Hercule Poirot. Plot pada buku ini terlalu terfokus pada dialog antara Kazumi-Kiyoshi serta penelusuran petunjuk yang mereka lakukan. Selain membuat buku agak membosankan di beberapa bagian, hal ini juga membuat tidak ada nilai lebih yang membuat buku ini menarik untuk dibaca lebih dari sekali.

 

Artikel Menarik Lainnya: