Review Buku Uesugi Kenshin





uesugi kenshin eiji yoshikawaUesugi Kenshin – Daimyo Legendaris dari Kasugayama

Penerbit: Kansha Books
Pengarang: Eiji Yoshikawa
Terbit: Mei 2012
Tebal: 388 halaman
Harga: Rp. 59.800

Plot:

Atas permintaan Shogun, Uesugi Kenshin mengepung klan Hojo yang mulai menyerang negeri-negeri kecil. Saat itulah Takeda Shingen menyerang dan membumihanguskan Kastel Warigadake milik Uesugi Kenshin. Kejadian tersebut membuat perseteruan antara kedua daimyo terbesar itu kian memuncak.

Uesugi Kenshin yang kalah dalam jumlah pasukan dan enggan berperang akhirnya memutuskan untuk menyerang Takeda Shingen. Inilah pemicu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai, Perang Kawanakajima.

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Ribeka Ota, kita seolah berada dalam peperangan bersama pasukan Uesugi Kenshin, sambil menghayati kebijaksanaan serta aturannya yang meliputi seluruh sendi kehidupan para samurai.

 

The Good
Seni perang • penggambaran prinsip moralitas seorang samurai • cerita tentang tokoh penting Sengoku Jidai yang selama ini jarang diekspos • terjemahan bagus
The Bad
Hanya sepenggal dari kehidupan seorang Uesugi Kenshin
Rating: 7.5 / 10

 

Review Buku Uesugi Kenshin:

Jaman Sengoku Jidai adalah jaman di mana Jepang terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, yang masing-masing dipimpin oleh seorang daimyo. Kaisar (Shogun) pada masa itu tidak dihormati oleh kebanyakan daimyo, sehingga mereka lebih suka untuk saling berperang satu sama lain demi merebut gelar sebagai penguasa sejati Jepang. Di antara para daimyo terkenal di masa Sengoku adalah Uesugi Kenshin dan rival abadinya, Takeda Shingen, yang walaupun tidak kalah hebat dari tokoh macam Oda Nobunaga, Tokugawa Ieyasu, dan Toyotomi Hideyoshi, namun cerita tentang keduanya lebih jarang diekspos oleh penulis kisah sejarah.

Uesugi Kenshin sendiri adalah satu dari sedikit daimyo yang masih menghargai sang Shogun, oleh karena itu ia tidak berpikir dua kali ketika utusan Shogun memintanya menyerbu klan Hojo. Ketika Kenshin meninggalkan provinsi Echigo untuk bertempur, saat itulah klan Takeda yang sebenarnya masih terikat perjanjian damai dengan klan Uesugi menyerang kastil Warigadake milik klan Uesugi. Kenshin pun dihadapkan pada dua pilihan sulit; tetap mempertahankan perjanjian damai walaupun akan melukai hati para pengikutnya, atau mencari keadilan dengan menyerang Shingen, walaupun tahu bahwa rakyat akan menderita karena akan terjadi perang lagi untuk kesekian kalinya dengan klan Takeda.

Akhirnya Kenshin memutuskan bahwa perseteruan panjang dengan klan Takeda harus diakhiri saat itu juga di dataran Kawanakajima, artinya salah satu dari dia atau Shingen harus tewas. Tekad inilah yang membuat Kenshin menggunakan strategi “tanpa taktik”, yang tidak hanya membingungkan buat Shingen, tapi juga membuat resah para pengikut Kenshin sendiri. Di sinilah daya tarik buku Uesugi Kenshin, dimana seni perang digambarkan secara apik, yang menunjukkan bahwa perang bukan semata kontak fisik di medan pertempuran belaka, melainkan juga sebuah pertarungan psikologis yang sudah berlangsung jauh sebelum perang itu sendiri dimulai.

Di buku ini kita juga akan mengerti bahwa bagi seorang samurai, perang bukanlah sekedar menang-kalah yang bisa diperoleh dengan mengabaikan kehormatan. Sebagai bukti, di luar medan perang klan Uesugi dan Takeda juga memiliki hubungan dagang. Bahkan ketika klan Takeda diboikot klan-klan lain yang tidak mau mengirim garam ke provinsi Kai, Kenshin dengan berbesar hati menjual garam dengan harga pasar kepada Shingen karena tidak tega melihat penduduk Kai yang terkena penyakit akibat kurang garam.

Hal ini dikarenakan walaupun mereka berperang, namun Kenshin dan Shingen tidak membenci satu sama lain. Mereka berdua merasa bahwa diri mereka adalah orang pilihan yang bisa mempersatukan Jepang dan mengakhiri masa-masa kekacauan, dan memandang satu sama lain sebagai rival untuk mencapai tujuan itu.

Seperti layaknya karya Eiji Yoshikawa lainnya, buku Uesugi Kenshin ini walaupun isinya lumayan “berat”, namun dituliskan dengan apik sehingga enak dibaca. Apalagi Kansha Books menerjemahkannya langsung dari bahasa Jepang, sehingga terasa lebih akurat jika dibandingkan pola terjemahan Jepang-Inggris-Indonesia.

Sayangnya buku ini tidak terlalu detail menggambarkan sosok seorang Uesugi Kenshin sebelum perang Kawanakajima. Penyebab konflik panjangnya dengan Takeda Shingen pun hanya dibahas sekilas, dan kurang menggambarkan seberapa hebat rivalitas di antara keduanya, yang sebelumnya juga sudah beberapa kali bertemu di medan perang. Selain itu ada sedikit bab yang dihabiskan untuk membahas latar belakang dari beberapa anak buah Kenshin dan Shingen, yang seolah-olah merupakan tokoh yang penting untuk dikenal, tapi ternyata justru perannya di peperangan tidak kelihatan (entah tidak dituliskan oleh sang pengarang, atau memang tidak ada perannya).

Dengan tebal yang “hanya” 388 halaman dan font cukup besar, pembaca mungkin akan merasa “kurang” dengan novel ini, dan menginginkan untuk tahu lebih banyak lagi tentang daimyo legendaris yang oleh para pengikutnya dijuluki sebagai “Dewa Perang” ini. Tapi secara keseluruhan, buku Uesugi Kenshin ini sangat layak untuk melengkapi koleksi novel sejarah Jepang anda.

Artikel Menarik Lainnya: