Review Game Spec Ops: The Line





Game Spec Ops: The Line mengambil setting di Dubai masa kini, di mana badai pasir terdahsyat sepanjang sejarah menghantam kota mewah ini. Banyak  penduduk tewas, dan gedung-gedung pencakar langit tenggelam di lautan pasir. Batalion 33 dari Amerika yang dipimpin oleh Kolonel John Konrad mengajukan diri untuk menjadi sukarelawan dalam mengevakuasi penduduk Dubai. Ketika keadaan semakin parah, pemerintah Amerika memutuskan menarik mundur Batalion 33 ini, tetapi Konrad menolak dan memilih melakukan desersi bersama seluruh pasukannya.

Enam bulan sesudahnya, ketika Dubai sudah dinyatakan sebagai kota mati, terdengar transmisi radio dari Kolonel Konrad. Pemerintah Amerika pun memutuskan mengirim tim kecil dari Delta Force beranggotakan tiga orang untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di Dubai. Anda sebagai Kapten Martin Walker akan ditemani Letnan Adams dan Sersan Lugo untuk menjelajahi Dubai dan menguak misteri di balik hilangnya Batalion 33.

The Good
Cerita yang dalam dan emosional • pilihan-pilihan yang menghadirkan dilema moral • gameplay yang menantang • AI kawan dan lawan cukup lumayan
The Bad
Persenjataan kurang terasa bedanya • pemandangan padang pasir lama-kelamaan agak membosankan
Rating: 7 / 10

 

Spec Ops: The Line

Pada game ini pasukan Amerika bukan lagi sebagai pahlawan.

 

Sangat jarang ada game ber-genre third person shooter yang hadir dengan cerita yang kuat dan emosional. Jangan mengira bahwa karena Spec Ops: The Line ber-setting di Dubai, lantas ceritanya hanya standar aksi heroik pasukan Amerika melawan teroris Arab. Malah sebaliknya, di sini tim Delta Force pimpinan Kapten Walker harus berhadapan dengan Batalion 33 yang melakukan desersi.

Kapten Walker dan timnya akan menghadapi misteri yang membingungkan, kenapa Batalion 33 yang semula ditugaskan mengevakuasi korban badai pasir malah berbalik menyerang penduduk dan pasukan Paman Sam sekaligus. Belum lagi keterlibatan CIA yang tiba-tiba muncul, semakin membuat Walker, Adams, dan Lugo bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pasca badai pasir di Dubai.

Ketidaktahuan tentang siapa yang benar dan salah akan sering menimbulkan dilema moral bagi Walker dan timnya dalam mengambil keputusan pada sebuah situasi. Misalnya ketika mereka harus memilih antara menyelamatkan agen CIA yang mungkin bisa membantu mengungkap misteri, atau membiarkannya terbunuh demi menyelamatkan penduduk sipil yang tidak dikenal. Situasi seperti ini akan sering terjadi sepanjang game, di mana keputusan yang diambil akan berdampak pada mental pasukan elit ini.

Sayangnya pilihan-pilihan yang dibuat Walker tidak akan berdampak pada jalan cerita game itu sendiri, karena plot game ini cenderung linear. Keputusan moral hanya akan berdampak pada karakter Walker, Adams, dan Lugo, di mana setiap kali mereka harus membunuh, beban mereka dalam menyelesaikan misi akan makin besar. Walaupun demikian, Spec Ops: The Line tetap memiliki multiple ending, yang hanya dipengaruhi keputusan yang anda buat pada saat chapter final.

Banyak keputusan sulit yang harus diambil Walker, seperti menembak atau membiarkan saja penduduk yang mencuri air untuk keluarganya.

 

Layaknya game third person shooter lainnya, Spec Ops: The Line mengadaptasi sistem shoot and cover, yang diaplikasikan dengan cukup baik. Banyak game dengan sistem ini gagal di pasaran karena sistem cover yang payah, atau malah sebaliknya terlalu mudah, di mana kita bisa menghabisi semua musuh dari tempat berlindung kita. Hal ini tidak terjadi pada Spec Ops: The Line, karena AI lawan yang lumayan pintar, jika kita terlalu lama cover di satu titik, mereka akan melempar granat ke kita, atau malah charge menggunakan pisau dan shotgun. AI untuk Adams dan Lugo pun cukup baik. Contohnya jika kita mendekati tempat berlindung mereka, mereka akan mencari tempat cover yang lain sehingga tidak bertumpuk di satu tempat yang memudahkan lawan menyerang.

Sebagai game yang ber-setting masa kini, Spec Ops: The Line menghadirkan banyak pilihan senjata asli yang dipakai militer jaman sekarang. Sayang, banyaknya senjata ini tidak terlalu terasa signifikan bedanya ketika dipakai. Sebagai contoh, ketika Walker membawa senapan mesin SAW, dia akan tetap bergerak selincah ketika dia hanya membawa pistol. Sniper rifle yang seharusnya berat pun bisa ditembakkan dengan ringan ketika Walker sedang berdiri, atau bahkan berjalan. Bahkan pistol yang seharusnya berjarak pendek tetap bisa akurat dan mematikan untuk membunuh musuh di kejauhan.

Dari sisi grafik, Spec Ops: The Line terasa cukup realistis dan artistik. Gedung-gedung pencakar langit dan badai pasir digambarkan cukup detail. Walaupun demikian, karena misi yang hanya berkutat di padang pasir atau bagian dalam gedung yang hancur, lama kelamaan akan terasa agak membosankan juga. Hal ini, ditambah cerita yang linear, mungkin akan membuat kita malas mengulang game ini jika sudah menamatkannya sekali, yang bisa dilakukan dalam waktu kurang dari 10 jam.

Kesimpulannya, Spec Ops: The Line cukup bagus dan layak dimainkan, walaupun tidak istimewa. Cerita yang jarang dijumpai untuk game action dan gameplay yang menantang akan sedikit menutupi pemandangan padang pasir yang tidak enak dilihat.

Badai pasir yang sering menghantam, lama-lama akan menyakitkan juga untuk mata.

 

Spec Ops: The Line

Publisher: 2K Games
Developer: Yager Development (single player), Darkside Game Studios (multiplayer)
Release: 26 Juni 2012
Rating: M/18+
Platform: PS3, XBox, PC (Microsoft Windows)

Minimum System Requirements (for PC):

OS: Windows XP SP3/Vista/7
Processor: Intel Core 2 Duo @ 2GHz / AMD Athlon 64 X2 Equivalent
Memory: 2 Gb
Hard Drive: 6 Gb free
Video Memory: 256 MB or more
Video Card: NVIDIA GeForce 8600 / ATI Radeon HD 2600XT
Sound Card: Direct X 9.0c sound device
DirectX: 9.0c
Keyboard
Mouse
DVD Rom Drive

Artikel Menarik Lainnya: