Review Novel The Devil’s Alternative





novel-the-devil's-alternativeThe Devil’s Alternative

Penerbit: Serambi
Pengarang: Frederick Forsyth
Terbit: Juli 2013
Tebal: 602 halaman
Harga: Rp. 85.000

Plot:

Sebuah kapal tanker raksasa, Freya, dibajak oleh patriotis Ukraina. Mereka menuntut pembebasan dua teman mereka yang dipenjara setelah membunuh pilot dalam pembajakan pesawat yang gagal. Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, 20 ribu ton minyak mentah akan ditumpahkan ke laut dan menyebabkan bencana besar-besaran.

Sejumlah negara Eropa pesisir dibuat panik oleh ancaman itu. Para pejabat tinggi dan diplomat langsung membahas langkah apa yang akan diambil.

Sementara itu, kegagalan rekayasa teknologi pangan untuk menciptakan gandum yang tahan cuaca buruk memicu ketegangan dalam partai penguasa di Uni Soviet dan menyebabkan pembunuhan Ketua KGB oleh dua orang yang merupakan kawan para pembajak.

Pemimpin Uni Soviet yang tidak ingin dua pembunuh sekutunya dibebaskan mengancam akan membatalkan perjanjian pembelian gandum dengan Amerika Serikat jika tuntutan para pembajak kapal tanker itu dipenuhi. Keadaan ini membuat semua pihak terjebak dalam pilihan yang sulit dan pahit.

Satu-satunya jalan terbaik adalah mengambil “pilihan setan”. Namun, di tengah ketegangan internasional itu, terselip kisah cinta antara diplomat Inggris dengan staf politbiro yang menjadi titik terang.

 

The Good
Perpaduan menarik antara intrik politik, diplomasi, dan spionase • Alur cepat dan menegangkan • Ending yang cerdas dan tidak terduga
The Bad
Tema kapitalisme vs sosialisme yang klise
Rating: 8 / 10

 

Resensi Novel The Devil’s Alternative:

Uni Soviet sedang dilanda bencana kelaparan. Presiden Maxim Rudin berusaha mengatasinya dengan cara membeli gandum dalam jumlah besar kepada Amerika, dengan imbalan Soviet akan mengurangi pengembangan teknologi militer mereka.Namun pihak oposisi Yefrem Vishnayev lebih memilih jalan agresi, dengan usulan untuk menaklukkan seluruh Eropa. Untuk saat ini Rudin masih unggul tipis dalam dukungan dari para anggota Politbiro.

Masalahnya, dukungan pada Rudin terancam akibat adanya teroris yang menyandera sebuah kapal tanker bermuatan 1 juta ton minyak mentah. Para teroris mengancam membuang minyak ini ke lautan jika tuntutan mereka agar pemerintah Jerman Barat membebaskan dua tahanan buronan pihak KGB tidak dipenuhi.

Jika kedua orang ini dibebaskan, maka pemerintahan Rudin akan tercoreng, dan dia akan digulingkan oleh Vishnayev, yang akan menimbulkan perang besar di Eropa, dan pada akhirnya akan melibatkan Amerika juga. Sedangkan menolak melepaskan dua tahanan ini akan menyebabkan kerusakan ekologis yang parah di pantai-pantai negara Eropa akibat pencemaran minyak mentah.

Di saat presiden Amerika Bill Matthews dan sekutu Eropanya kehabisan akal memilih satu di antara dua pilhan mustahil ini, ada seorang diplomat asal Inggris bernama Adam Munro yang memberikan alternatif ke-3, sebuah “alternatif iblis” yang tidak akan pernah dilaksanakan jika bukan karena situasi yang sangat darurat!

Mengambil setting perang dingin di awal tahun 80an, Frederick Forsyth sekali lagi menuliskan sebuah kisah apik yang memadukan antara sejarah dengan fiksi, dengan batas-batas yang dikaburkan. Riset yang dia lakukan akan memberikan pembaca pemahaman tentang dunia politik, diplomasi, spionase, dan persenjataan militer pada masa itu. Detil-detil tersebut disajikan dengan baik tanpa mengganggu jalannya cerita itu sendiri, sehingga alur yang cepat dan menegangkan dari buku ini akan tetap terjaga hingga halaman terakhir.

Seperti karya-karya Forsyth yang lain, novel The Devil’s Alternative tidak berisi terlalu banyak adegan aksi. Sub-plot pembajakan kapal supertanker lebih berfokus kepada perang mental antara kapten kapal, pembajak, dan pihak-pihak pemerintah dalam menghadapi tuntutan pembajak. Di sini dituliskan dengan apik bagaimana ketegangan seorang teroris dengan sanderanya ketika pihak pemerintah berusaha menunda-nunda dalam memenuhi tuntutannya.

Sub-plot tentang diplomasi antara Gedung Putih dengan Kremlin juga tidak kalah menariknya. Seluk-beluk tentang bagaimana pemerintah berusaha menjalankan spionase demi mendapatkan intel tentang lawannya, sehingga memiliki informasi vital untuk mengajukan penawaran, benar-benar menggambarkan sebuah perundingan tingkat tinggi antara dua negawa super power.

Sedangkan sub-plot tentang sang diplomat mata-mata Adan Munro pada awalnya memang agak membosankan, hingga ia menawarkan sebuah “pilhan setan” pada pemerintah Amerika dan Uni Soviet untuk menyelesaikan konflik akibat pembajakan kapal. Pembaca yang menebak-nebak bagaimanakah konflik ini akan diselesaikan mungkin akan dikejutkan dengan ending cerdas dan tak terduga akibat usul Munro. Suspense dalam novel The Devil’s Alternative benar-benar dibangun dengan baik dari awal hingga terasa klimaks pada endingnya, membuat buku ini sebagai sebuah page turner yang susah untuk diletakkan sebelum halaman terakhir.

Sayangnya, buku ini juga terlalu hitam-putih dalam menjelaskan situasi pada masa perang dingin. Uni Soviet yang ketika itu belum pecah digambarkan sebagai diktator yang menerapkan politik tangan besi kepada rakyatnya, dan terutama menindas wilayah jajahannya seperti Ukaraina, Armenia, dan Georgia. Pihak-pihak yang menentang pemerintah akan dihabisi begitu saja oleh KGB. Ideologi Marxisme-Leninisme serta sistem ekonomi sosialisme yang terpusat juga dianggap gagal total dengan hadirnya bencana kelaparan.

Sedangkan Amerika yang menganut sistem kapitalisme seperti biasa digambarkan sebagai polisi yang bertugas menjaga perdamaian dunia. Mereka juga bisa menekan negara-negara sekutu seperti Jerman Barat agar mau menunda pelepasan kedua teroris, tanpa perlu menjelaskan alasan mereka, padahal saat itu seluruh pantai Eropa sedang terancam oleh tumpahan minyak mentah.

Memang temanya agak mirip dengan cerita-cerita dalam komik maupun game, di mana Uni Soviet adalah pihak jahat yang berusaha untuk menguasai dunia, dan Amerika serta satu agen rahasia dari Inggris-lah yang mampu menghentikannya. Walaupun penampilan sang agen di sini jauh dari kesan James Bond, karena Adam Munro sendiri meskipun seorang mata-mata, namun pekerjaan utamanya hanyalah sebagai seorang diplomat Kedubes Inggris di Moskow.

Artikel Menarik Lainnya:

Tags: ,